PALU, TADULAKO — Aksi kemanusiaan ditunjukkan oleh nelayan lokal di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Sebanyak 15 Warga Negara Asing (WNA) asal Filipina berhasil diselamatkan setelah terombang-ambing selama 13 hari di lautan akibat kerusakan mesin di tengah cuaca ekstrem.
Para penyintas tersebut kini telah tiba di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu pada Minggu (25/1) untuk menjalani proses karantina dan pendataan lebih lanjut oleh Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian.
Kronologi Penyelamatan di Tengah Laut
Peristiwa bermula saat seorang nelayan bernama Cici menemukan sebuah speedboat yang dalam kondisi rusak pada Kamis (22/1) sekitar pukul 08.00 WITA. Lokasi penemuan berada sekitar 72 mil laut dari daratan Buol.
Tanpa ragu, Cici mengevakuasi para korban ke perahunya dan menarik kapal mereka menuju Dermaga Poyapi. Perjalanan evakuasi tersebut memakan waktu 10 jam hingga akhirnya mereka tiba di daratan pada pukul 18.00 WITA. Setibanya di Buol, Pemerintah Kabupaten, Polres, TNI AL, dan BPBD segera bergerak cepat memberikan bantuan medis di RS Mokoyurli serta menyediakan penampungan sementara.
Bertahan Hidup dengan Logistik Seadanya
Kelompok WNA ini diketahui berangkat dari Semporna, Sabah, Malaysia, dengan tujuan Filipina. Namun, ombak besar menghantam kapal mereka hingga mesin mengalami kerusakan fatal. Selama hampir dua minggu di laut lepas, mereka bertahan hidup dengan persediaan makanan yang sangat minim.
Salah satu WNA menceritakan momen pilu saat mereka harus membagi rata sisa makanan yang ada, terutama demi anak-anak.
“Selama tiga belas hari di laut, kami hanya punya satu bungkus biskuit. Saya tidak makan, saya berikan untuk anak-anak (budak-budak). Satu keping dibagi dua agar semua anak bisa makan,” ungkapnya saat ditemui di Kantor Imigrasi Palu.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Muhammad Akmal, dalam konferensi pers pada Minggu menjelaskan bahwa pihaknya sedang melakukan verifikasi mendalam terkait kewarganegaraan para penyintas.
“Kami harus memastikan identitas mereka secara akurat, apakah benar warga negara Filipina atau warga Malaysia yang fasih berbahasa Filipina, mengingat kasus serupa pernah terjadi sebelumnya. Kami juga telah menerima instruksi dari Plt. Direktur Jenderal Imigrasi untuk segera berkoordinasi dengan Konsulat Filipina,” jelas Akmal.
Selain pendataan, pihak Imigrasi juga memperhatikan kesejahteraan para korban di ruang detensi. Kepala Subseksi Intelijen Keimigrasian, Andhika Ramawardana, menyebutkan bahwa mereka menyediakan kebutuhan pangan sesuai preferensi para WNA.
“Kami menyiapkan ubi karena mereka lebih terbiasa mengonsumsi itu dibanding nasi, serta menyediakan ikan untuk diolah. Pakaian dan peralatan mandi juga telah kami distribusikan,” tambahnya.
Saat ini, koordinasi intensif terus dilakukan dengan Konsulat Jenderal Filipina di Manado untuk proses verifikasi satu per satu. Meski kondisi kesehatan para WNA dinyatakan stabil, proses pemulangan akan tetap mengikuti prosedur perundang-undangan yang berlaku sebagai prioritas utama.*/LIA
Tinggalkan Balasan