JAKARTA, TADULAKO – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan tanggapan mengenai potensi penurunan harga BBM nonsubsidi pada Juli 2026 menyusul melemahnya harga minyak mentah dunia.

Berdasarkan pantauan di Kompleks Gedung RI pada Senin 29/06, Bahlil menyatakan pemerintah masih melakukan evaluasi mendalam terhadap pergerakan pasar global. Keputusan mengenai harga BBM nonsubsidi akan bergantung pada rata-rata harga minyak mentah dan kurs rupiah terhadap dolar AS.

Harga minyak mentah jenis Brent diketahui mengalami penurunan signifikan ke level USD 77,4 per barel pada akhir Juni 2026. Kondisi ini dipicu oleh peningkatan volume ekspor minyak dari Timur Tengah serta stabilitas pasokan di Selat Hormuz yang naik 12 persen.

“Kita lihat aja nanti. Pada saat harga minyak naik, hampir tiga bulan kita tidak naikkan. Masa baru turun dua minggu sudah ditanya kapan diturunkan,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Sejauh ini, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax RON 92 masih berada di angka Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Turbo mencapai Rp20.750 per liter. Penurunan harga minyak dunia diharapkan dapat memberi fiskal bagi penyesuaian harga di awal bulan depan.

“Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala mengikuti tren harga minyak dunia dan kurs,” kata Manajemen, Pertamina Patra Niaga.

Meski ada potensi penurunan, pihak Kementerian ESDM menegaskan bahwa stabilitas kurs tetap menjadi faktor penentu utama selain harga minyak mentah. Masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi terkait perubahan harga BBM nonsubsidi yang dirilis setiap tanggal satu.